Setiap orang pasti mengalami perjalanan waktu dalam menempuh suatu kehidupan. Hal ini bisa kita gambarkan bahwa setiap orang mengalami phase kelahiran, masa balita, kanak-kanak, dewasa, manula dan kematian. Akan tetapi tahapan itu, belum tentu setiap orang dapat mengalami hal yang sama, artinya ada kalanya seseorang sudah menghadap sang Khalik sebelum dia menginjak manula atau dewasa.
Yah, bisa dikatakan perjalanan waktu setiap orang berbeda-beda, menurut 'porsi' masing-masing yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Dengan menyadari adanya 'porsi' masing-masing seseorang terhadap waktu tersebut, sudah seharusnya setiap orang harus fokus pada diri sendiri, untuk dapat melakukan yang terbaik buat kemaslatan umat manusia.
Sering kita mendengar kalimat penyemangat untuk diri kita, seperti Manusia terbaik adalah yang berusaha membuat orang tersenyum atau Sebaik-baik
Manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dengan hal seperti ini, setiap manusia akan selalu melakukan hal terbaik buat dirinya dan lingkungannya. Memang tidak bisa kita pungkiri, setiap individu mempunyai dasar pandangan tersendiri, mengenai perjalanan waktu itu.
Pada intinya, dengan kita mengetahui adanya 'porsi' waktu tersebut, kita mengetahui bahwa kita harus fokus dengan apa yang kita lakukan, bukan mengurusi dan melihat orang lain. Kadang kala memang dibutuhkan sebagai comparasi, kita melihat orang lain, akan tetapi perlu kita sadari bahwa orang lain mempunyai perjalanan waktu tersendiri. Kategori sukses setiap orang berbeda-beda, hal ini tergantung sudut pandang kesuksesan yang dimaksudkan pada setiap orang.
Sebagai salah satu contoh kesuksesan adalah keberadaan keluarga yang harmonis, anak-anak yang sehat, sholeh-sholehah dan rejeki yang barokah. Kalau saya pribadi, melihat kesuksesan, tidak hanya banyaknya materi semata. Materi yang cukup dan barokah akan menjadikan ketenangan dalam hidup. Kadang kita melihat, orang-orang yang kita lihat dari luar materi banyak, tetapi hidupnya kurang tenang. Itu salah satu contoh dari keluarga dan materi.
Sekarang kita lihat dari kesusksesan dari sisi yang lain, misalnya keberhasilan kita dalam menyeimbangkan kehidupan rohani dan jasmani. Mengikuti kajian-kajian rohani, membaca Al Quran, sholat tepat waktu, menjaga kesehatan dengan berolah raga, menyalurkan hobby, dan lainnya. Keseimbangan ini, juga menjadi salah satu tolok ukur kesuksesan dari sudut pandang yang lain. Bisa jadi ada seseorang mulai rajin membaca Al Quran, umur 30th, dia lakukan konsisten hingga beliau wafat 65th, berarti sekitar 35th diberikan kesuksesan dalam hal rohani membaca al Quran, begitu juga contohnya anak kecil yang sudah pandai membaca Al Quran, sejak balita hingga dia dewasa, karena di saat dewasa lebih mengedepankan dunia, maka dia menjauh dari Al Quran, sehingga beliau wafat. Umur yang barokah setiap orang berbeda-beda dalam perjalanan waktu setiap manusia.
Dari uraian di atas ada beberapa point yang kita ambil kesimpulan, yaitu setiap manusia menginginkan umur & rejeki yang barokah, keseimbangan hidup rohani & jasmani, keluarga yang sakinah, mawadah & warohmah, serta anak-anak yang sehat, sholeh & sholehah menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar